Ketua DPD RI Sultan B Najamuddin mengungkap julukan yang diberikan kepada tujuh presiden Indonesia saat menyampaikan pidato dalam Sidang Bersama MPR-DPR-DPD 2026, Jumat (14/8/2026). Penyebutan tersebut menjadi bagian dari refleksi terhadap perjalanan kepemimpinan nasional dari masa ke masa.
Dalam pidatonya, Sultan menyampaikan bahwa setiap presiden memiliki peran, kebijakan, serta pencapaian yang berbeda dalam membangun Indonesia. Kontribusi para pemimpin tersebut dinilai menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan panjang sejarah bangsa.
Sultan kemudian menyebut sejumlah julukan yang menggambarkan kontribusi masing-masing presiden. Presiden pertama RI, Soekarno, disebut sebagai Bapak Proklamator. Julukan tersebut berkaitan dengan peran besar Soekarno dalam perjuangan kemerdekaan serta pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Presiden kedua RI, Soeharto, disebut sebagai Bapak Pembangunan. Julukan tersebut merujuk pada penekanan pembangunan nasional yang menjadi salah satu ciri utama pemerintahan pada masa kepemimpinannya.
Selanjutnya, Presiden ketiga RI, Bacharuddin Jusuf Habibie, disebut sebagai Bapak Teknologi. Habibie dikenal memiliki latar belakang kuat di bidang teknologi dan industri penerbangan. Perannya dalam pengembangan teknologi nasional menjadi salah satu hal yang melekat pada perjalanan kepemimpinannya.
Sementara itu, Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, disebut sebagai Bapak Pluralisme. Julukan tersebut dikaitkan dengan perhatian Gus Dur terhadap keberagaman, toleransi, serta kehidupan masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai latar belakang.
Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri, mendapat julukan Srikandi Konstitusi. Penyebutan tersebut menjadi bagian dari gambaran terhadap peran Megawati dalam perjalanan politik dan ketatanegaraan Indonesia.
Kemudian, Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), disebut sebagai Bapak Perdamaian. Julukan tersebut dikaitkan dengan upaya serta kebijakan yang berkaitan dengan perdamaian dan penyelesaian konflik selama masa pemerintahannya.
Adapun Presiden ketujuh RI, Joko Widodo (Jokowi), disebut sebagai Bapak Infrastruktur. Julukan tersebut merujuk pada pembangunan infrastruktur yang menjadi salah satu fokus utama pemerintahannya selama dua periode kepemimpinan.
Menurut Sultan, perbedaan julukan tersebut menggambarkan karakteristik serta kontribusi masing-masing presiden dalam periode kepemimpinan yang berbeda. Setiap pemerintahan menghadapi tantangan dan kondisi bangsa yang tidak selalu sama.
Penyebutan julukan tujuh presiden tersebut juga menjadi bagian dari momentum refleksi dalam Sidang Bersama MPR-DPR-DPD. Forum tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian kegiatan kenegaraan menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sultan menilai perjalanan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kontribusi para pemimpin nasional. Berbagai kebijakan dan keputusan yang diambil pada setiap masa pemerintahan turut membentuk kondisi Indonesia hingga saat ini.
Selain menjadi penghormatan terhadap para pemimpin terdahulu, penyebutan tersebut juga menjadi pengingat bahwa pembangunan bangsa merupakan proses yang berlangsung secara berkelanjutan. Setiap pemerintahan memiliki kontribusi yang kemudian dilanjutkan dan dikembangkan oleh pemerintahan berikutnya.
Momentum Sidang Bersama MPR-DPR-DPD 2026 pun menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan bangsa sekaligus menatap tantangan Indonesia ke depan. Pengalaman dari berbagai periode kepemimpinan diharapkan dapat menjadi pembelajaran dalam memperkuat persatuan dan pembangunan nasional.
Dengan berbagai kontribusi yang telah diberikan para presiden, Sultan menekankan bahwa perjalanan Indonesia merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan banyak elemen bangsa. Kepemimpinan dari masa ke masa menjadi bagian dari sejarah yang terus membentuk arah perjalanan Indonesia.
0 komentar:
Posting Komentar